|
Wagub Minta Waspadai Hujan
Imba “Santuni” Korban Meninggal, Pemkot Keluarkan Larangan Berlayar
Sulut—Peristiwa bencana alam yang terjadi beberapa hari terakhir ini dan mulai berimbas pada jatuhnya korban jiwa di bagian Utara kota Manado, semakin membawa keprihatinan Pemprov Sulut. Mewakili Pemprov, Wakil Gu-bernur (Wagub) Sulut Freddy H Sualang menegaskan, bahwa Sulut harus waspada terhadap fenomena alam yang terjadi akhir-akhir ini. “Kita harus mewaspadai musim hujan yang diprediksikan akan terjadi satu minggu kedepan,” ucap Sua-lang kepada sejumlah warta-wan, Rabu (14/1) kemarin. Himbauan waspada ini juga dikhususkan bagi warga yang tinggal di daerah bantaran sungai dan perbukitan, sebab kondisi cuaca saat ini kurang bersahabat. “Curah hujan yang terjadi selang beberapa hari terakhir ini cukup tinggi, diikuti gelombang dan angin kencang. Makanya warga yang tinggal di bantaran sungai, perbuktian maupun di pesisir pantai harus waspada,” kata Sualang. Selain itu, koordinasi antar kabupaten/kota terys dilaku-kan. Seperti yang disampaikan Kepala Badan Kesatuan Bangsa (Kesbang) Arnold Polii. “Kami juga sudah berkoordi-nasi dengan Badan Penanggu-langan Bencana Daerah (BPBD) Sulut dan mereka sudah siap di lapangan, termasuk Kesbang di kab/kota,” kata Polii. Polii juga kembali mengingatkan kepada warga, agar dapat mengenali ciri-ciri bencana yang akan terjadi semisal memperhatikan ketinggian air sungai disaat hujan deras mengguyur. “Warga yang tinggal di bantaran sungai dapat sesekali memeriksa ketinggian air. Jika air mulai naik secara perlahan-lahan, sebaiknya mencari tempat untuk mengungsi,” jelas Polii.
Sejumlah lokasi yang dinyatakan rawan bencana alam terdapat di 8 kab/kota yakni Bolmut sebanyak 6 lokasi, Bolmong 12 lokasi, Minahasa 18 lokasi, Minsel 3 lokasi, Mitra 3 lokasi, Minut 7 lokasi, Bitung 4 lokasi serta Manado 2 lokasi. Dari sejumlah lokasi tersebut, 44 lokasi masuk daerah berkategori potensi gerakan tanah menengah. Artinya, bahwa pada zona tanah di lokasi tersebut dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan diatas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir dan tebing jalan. Sedangkan sisanya, sebanyak 12 lokasi, masuk kategori potensi gerakan tanah tinggi atau artinya pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah lama yang bisa aktif kembali. “Kami masih meminta datanya dari setiap Kabupaten/Kota, karena tidak selamanya lokasi rawan tersebut akan terus bertahan. Pasti pemerintah sudah memperbaikinya,” tandas Polii. Di lain pihak, Kepala stasiun Klimatologi dan Geofisika Kayuwatu, Amat Subekti ketika dikonfirmasi mengatakan, bahwa gejala alam ini diakibatkan oleh angin barat yang bertiup pada laut Sulawesi dan biasa terjadi setiap bulan Januari. “Awan dari uap air terbawa angin, menjadi hujan di daerah Manado dan sekitarnya, lebih khusus di seluruh kawasan pantai utara terjadi gelombang besar dengan ketinggian sekitar dua sampai tiga meter,” kata Subekti. Mengenai kondisi cuaca saat ini, Subekti mengatakan, kalau dibandingkan dengan Selasa lalu, masih biasa-biasa saja. “Dibandingkan dengan kemarin, saat ini masih biasa-biasa saja. Tetapi, tergantung kondisi awan. Jadi, diperkirakan puncak dari gejala alam ini sudah terjadi kemarin, namun kami tetap menghimbau masyarakat agar selalu tetap waspada sampai cuaca kembali membaik,” ujarnya. Sementara itu, untuk keluarga korban yang meninggal dunia, Ronny Dirk (52) kelurahan Mahawu Lingkungan V kecamatan Tuminting, mendapat santunan dana dari Walikota Manado Jimmy Rimba Rogi sebesar Rp10 Juta yang diserahkan langsung oleh Wawali Manado Abdi Buchari SE, MSi. Menurut Buchari, kewaspadaan harus diingat selalu, dimana dan kapan pun warga berada. Bila diketahui bahwa kawasan pemukiman itu rawan bencana baik itu longsor maupun banjir maka, harus diantisipasi. Sebab waspada adalah jalan yang terbaik. “Waspada adalah jalan terbaik, untuk kita menyelamatkan jiwa dan keluarga kita. Ini himbauan harus ditanamkan baik-baik dalam pikiran, bahwa nyawa adalah yang paling penting, kalau tinggal barang, itu bisa didapat kembali, tetapi bila harus mempetaruhkan nyawa kita, maka itu jelas memberikan pertanda bahwa kita tidak menyayangi nyawa kita. Hal yang pertama kita lakukan adalah menyelamatkan diri kita baru kita selamatkan orang lain, sebab bencana itu akan datang secara tiba-tiba tanpa ada peringatan terlebih dahulu,” ujar Buchari seperti yang dikutip dari pernyatan Imba kepada penduduk yang diterpa bencana banjir, Rabu (14/1) kemarin. Buchari kepada sejumlah wartawan saat melakukan kunjungan di beberapa lokasi banjir, ketika disinggung soal penanganan bencana yang dianggap lemah oleh masyarakat, mengatakan, bila petugas penanggulangan bencana itu manusia, dan ada mekanisme yang mereka lakukan terlebih dahulu, sebelum mereka melakukan evakuasi. Justru yang perlu dilakukan saat situasi yang emergency adalah masyarakat itu sendiri. “Petugas kan tidak langsung dipanggil lantas akan hadir secepatnya, tetapi ada prosedur yang mereka lakukan, misalnya alat kelengkapan rescue, kendaraan, bahkan bahan makanan. Sebab kita tidak mungkin datang ke lokasi bencana dengan tangan kosong untuk penyaluran bantuan. Biasanya langsung diberikan paling lambat sehari, dan kalau bisa secepat mungkin berdasarkan data dari petugas di lokasi kejadian. Tapi biasanya langkah awal yakni evakuasi warga ke penampungan yang aman,” ujarnya. Selain itu, Pemkot juga telah mengeluarkan larangan berlayar untuk kapal penumpang atau pesiar antar pulau khusus di wilayah Manado. Tak hanya itu, cuaca buruk ini juga mendapat tanggapan positif dari pihak bandara Sam Ratulangi. Tetapi, khusus untuk mengantisipasi terjadi kecelakaan penumpang kapal lintas pulau, larangan berlayar telah diberlakukan sampai kondisi laut benar-benar aman. “Ya kita sudah melakukan koordinasi dengan sejumlah pengusaha dan pemilik kapal penumpang jurusan Sangihe dan Talaud, bahkan beberapa pulau tetangga berjejeran langsung dengan Bunaken diantaranya, Manado Tua, Nain, Mantehage dan Siladen. Inti dari penyampaian itu, agar para kapten kapal untuk sementara tidak berlayar, karena gelombang laut sangat kuat mencapai 3 meter atau lebih. Informasi ini memang perlu diperhatikan untuk menghindari terjadinya kecelakaan di laut,” ujar Buchari yang didampingi Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Drs Servie Sendouw MSi.
HIMBAUAN
Sementara itu, himbauan agar masyarakat bersikap waspada terhadap gejala alam yang berujung pada bencana banjir dan tanah longsor, terus berkumandang dari setiap Kab/Kota se-Sulut. Seperti di Minahasa. Bupati Minahasa, Drs Stevabus Vreeke Runtu melalui Kabag Humas Pemkab, Vicky Tanor Spi Msi, mengatakan, kalau himbauan pemerintah ini seiring kondisi cuaca yang saat ini berpotensi badai, yang bisa mengakibatkan terjadinya bencana seperti longsor dan banjir. “Lebih baik waspada, dari pada tinggal menyesali apa yang terjadi,” ujarnya seraya mengatakan, bukan berarti bila terjadi bencana masyarakat akan dibiarkan. Kalau toh terjadi pemerintah siap membantu. Tak heran, Satkorlak Kabupaten Minahasa, terus disiagakan untuk memantau adanya bencana di wilayah ini, agar supaya bisa dengan cepat turun ke lokasi membantu para korban. “Apapun terjadi pemerintah adalah milik rakyat, sekalipun disaat terjadi bencana,” tegas mantan Camat Pineleng ini. Dari informasi yang berhasil dirangkum harian ini sesuai laporan dari sejumlah camat, sedikitnya puluhan rumah dilaporkan rusak parah setelah dihantam badai. “Di wilayah Tondano Selatan, dan Tombariri dilaporkan banyak menjadi korban,” terangnya. Adapun dalam laporan yang diterima Pemkab, tercatat untuk di Kecamatan Tondano Selatan, pada hari Selasa lalu, ada 2 rumah di kelurahan Tataaran I, milik keluarga Raumbuisan Mailangkay rusak setelah tertimpah pohon, serta di Kelurahan Koya 1 buah rumah ambruk akibat tiupan angin kencang. Sedangkan yang paling banyak mengalami kerusakan rumah di Kecamatan Tombariri, menurut catatan ada sekitar 14 rumah yang ada di pesisir pantai Tambala rusak berat diterpa ombak, dan 7 rumah lainnya mengalami kerusakan ringan. “Ini sesuai dengan laporan yang diberikan camat setempat,” ujar Tanor. Ditempat lain juga, yakni Pulutan, Desa Timu dan Paslaten Kecamatan Romboken, sejumlah rumah dilaporkan mengalami kerusakan atap imbas tiupan angin. Untuk itu, Tanor menyampaikan himbauan pemerintah, agar supaya masyarakat harus waspada. Tak jauh berbeda dengan yang terjadi di Minut. Bencana alam yang melanda Wori menghancurkan puluhan rumah warga, seperti di desa Minaesa. Hempasan ombak disertai angin kencang menghancurkan 8 rumah warga serta 19 rumah lainnya rusak ringan. Sedangkan desa Tiwoho 3 rumah rusak dan rumah lainnya tergenang air, begitu juga di desa Kima Bajo, 8 rumah rusak parah, 11 rumah rusak ringan dan 104 rumah tergenang air, serta didesa Wori, 2 rumah rusak total dan 91 rumah lainnya tergenang air. Plt Bupati Kabupaten Minut Drs Sompie Singal MBA, melalui Kabag Humas dan Protokoler Dra Yeanette Possumah MSi, menghimbau kepada masyarakat agar tetap waspada dengan cuaca yang ada sekarang, karena bencana bisa datang kapan saja. “Bencana bisa datang kapan saja tanpa kita sadari, untuk itu dihimbaukan kepada masyarakat agar selalu waspada dan selalu sigap mencari tempat yang aman dari bencana,” ujar Possumah, Rabu (14/1) kemarin. Sementara itu Pemkab Minut sendiri telah meninjau lokasi yang ditimpah bencana, serta telah memberikan bantuan untuk masyarakat di kecamatan Wori. “Pemkab Minut telah meninjau lokasi dan juga telah memberikan bantuan berupa bahan makanan seperti beras, mie instan, dan lainnya untuk meringankan beban yang menimpa masyarakat yang ada di kecamatan Wori. Ini merupakan langkah yang tepat yang dilakukan Plt Bupati Singal, dan juga rencananya akan ada bantuan susulan lainnya.” pungkas Posumah.
ANTISIPASI
Sementara, di Tomohon, Minsel dan Mitra telah melakukan langkah antisipasi bencana. Hal itu dilakukan demi menjaga keselamatan warga. “Dilihat dari dari volume curah hujan per millimeter memang terjadi peningkatan, seperti pada tanggal 11 lalu yang mencapai 131 milimeter. Dan bukan tidak mungkin ke depan nanti, curah hujan akan semakin tinggi sehingga perlu diwaspadai termasuk masyarakat yang bertempat tinggal dibantaran sungai,” terang Jemmy Runtuwene kepala kantor Direktorat Vulkanologi dan Migas Bencana Geologi Tomohon Kendati potensi terjadinya bencana banjir di Kota Tomohon begitu kecil karena wilayah Kota Tomohon sendiri berada di ketinggian, tapi untuk potensi bencana tanah longsor tak akan lepas begitu saja. Buktinya dalam bulan ini berjalan sudah dua kali terjadi longsor yang disertai dengan pohon tumbang. Kabag Humas James Rotikan SE, ketika dikonfirmasi wartawan mengatakan, langkah yang telah diambil Pemkot adalah meningkatkan pemantauan di lokasi rawan bencana berkordinasi dengan pihak kecamatan dan kelurahan setempat. “Mudah-mudahan tidak sampai terjadi bencana. Tapi langkah antisipasi telah dilakukan hingga ke tingkat kelurahan, terlebih ada instruksi Walikota dan Wakil Walikota Tomohon agar lebih waspada pada bulan-bulan ini,” terangnya. Untuk penanganan teknis jika terjadi bencana, Kadis PU Tomohon, Ir Djouke Karouw sendiri menyatakan pihaknya telah siapa jika terjadi tanah longsor. “Pemkot telah membentuk tim satkorlak yang siap kapan saja hinagga 24 jam. Kalau PU sendiri jika dibutuhkan seperti kejadian lalu ada tanah longsor, di jalan Tomohon-Manado kami langsung bergerak,” tandasnya. Agar penanggulangan bencana berjalan sesuai dengan aturan, ternyata Pemkot tengah mengkaji Perda tentang pembentukan Badan Penanggulangan Bencana Alam Kota Tomohon. Hal itu dikatakan Kepala Bappeda Kota Tomohon, Ir Laurens Bulo. “Perda tentang pembentukan badan itu sedang dikaji untuk diperdakan dan dalam waktu dekat ini perda tersebut akan segera terbit,” terangnya. Langkah antisipasi serupa juga digalakkan Pemkab Mitra. Hal itu dipicu cuaca buruk yang terus melanda Mitra dua hari terakhir ini. Demikian dikatakan Bupati Mitra, Telly Tjanggulung (T2), kepada Swara Kita, Rabu (14/1) kemarin. “Cuaca hujan yang disertai angin kencang yang terjadi beberapa hari ini, akan terus kita waspadai. Oleh karena itu, fungsi pengawasan akan kita tingkatkan,” tukasnya. Lanjut T2, pemerintah telah menyiapkan kendaraan khusus yang akan dimanfaatkan untuk memonitor wilayah-wilayah yang dianggap rawan bencana. Di samping itu, pemerintah juga telah menyiapkan mobil ambulance, untuk menjaga segala kemungkinan yang terjadi. “Mobil penanggulangan bencana dan ambulance yang diberikan oleh pemerintah pusat, sudah akan kita operasikan, untuk melakukan monitoring dan pemantaun,” terangnya. Lebih jauh T2 menghimbau mengintruksikan kepada seluruh aparat pemerintah kecamatan serta pemerintah desa untuk terus melakukan monitoring 1X24 jam di wilayahnya masing-masing. “Saya telah sampaikan kepada seluruh aparat pemerintah untuk terus melakukan pengawasan serta mampu mengambil langkah antisipasi terhadap ancaman bencana,” tandasnya sembari menghimbau agar masyarakat untuk terus waspada dan berjaga-jaga. Dampak buruk akibat badai itu bagi warga yang tinggal di daerah pesisir pantai di Minsel semisal di kelurahan Ranoyapo, Matani, Pondang, Ranomea serta Tumapaan, sangat terasa . Dari pantauan koran ini, kemarin, rumah penduduk dan perahu para nelayan hancur. Pun hingga kini genangan air masih mengenangi rumah penduduk, seperti yang terjadi di desa Matani kecamatan Tumpaan. Sementara di kelurahan Ranoyapo, rumah keluarga Rahman Monoarfa dan beberapa rumah penduduk lainnya hancur diterjang ombak dan angin kencang. Ketua Komisi C Dekab Minsel, Drs Robby Sangkoy MPd, mengatakan, akibat hujan lebat yang mengguyur, Matani, Pondang, Ranomea dan Tumpaan terendam air. “Daerah pesisir Matani, Pondang, Ranome dan Tumpaan menjadi korban amukan angin kencang dan gelombang pasang,” ujarnya. Lebih lanjut, Sangkoy menyatakan, untuk daerah ini nanti akan dianggarakan pemecah ombak “ Ke depan pemerintah sudah harus mengalokasikan dalam APBD pemecah ombak,” ujarnya. Yang paling terasa akibat terpaan badai berupa angin kencang dan ombak, sepertinya masayarakat di kepualaun semisal Sangihe dan Sitaro. Pasalnya, dua wilayah itu, mata pencaharian penduduknya kebanyakan dari hasil laut. Karenanya, Sekda Sangihe Drs Okctavianus Kamuntuang Makagansa, MSc memepringatkan kepada semua masyarakat Sangihe khususnya warga yang mempunyai profesi sebagai nelayan, untuk sementara waktu jangan dulu melaut mengingat buruknya cuaca yang menerpa perairan Sangihe. “Sebaiknya, semua nelayan jangan dulu turun melaut sampai cuaca benar-benar membaik. Sebab resiko kecelakaan laut di tengah amukan angin kencang dan gelombang yang melanda perairan Sangihe saat ini sangat besar,” tegas Makagansa. Hal sama juga terjadi di Sitaro. Pada intinya, pemerintah melarang kepada para nelayan untuk melaut. Terlebih, akibat terjangan ombak membuat puluhan rumah di pesisir pantai rusak. Sesuai data yang dirangkum koran ini, ada 7 rumah di kampung buang kecamatan Biaro rusak dan belasan rumah di Ondong, Paniki kecamatan Siau Barat jadi sasaran hantaman ombak. Pelak saja, Pemkab Sitaro melalui Asisten I Drs Jhon Palandung begitu menerima informasi tersebut, Selasa (13/1) lalu, sekitar pukul 21.30 Wita langsung menuju lokasi kejadian di Ondong dan Paniki. Palandung pun menghimbau, agar masyarakat yang tinggal di pesisir pantai tetap waspada, dan apabila keadaan alam terus memburuk, kiranya dapat mengungsi dahulu ke tempat pengungsian yang telah disediakan Pemkab Sitaro seperti gedung sekolah SMU Ondong. “Kami berharap agar para Camat serta Kapitalau untuk proaktif dalam memberikan informasi serta tanggap di lapangan dalam situasi seperti sekarang ini, dan terus ingatkan warga untuk waspada dengan fenomena alam yang dapat berubah dengan cepat,” ujar Palandung. (gebe/efes/erka/efem/eler/teem/elem/esde/erde/mt)
Sumber: http://www.swarakita-manado.com/
|