Portal Kota Tomohon, Sulawesi utara - Indonesia

Patung Tololiu Mengingatkan kejayaan Tonaas Wangko Suku Tombulu

Selasa, 6 Januari 2009 07:36:06 - oleh : admin

DALAM lingkup sejarah daerah Mu’ung (sekarang ini Matani,red), serta seputaran Nimawanua (kini kelurahan Kolongan,red) merupakan satu komunitas masyarakat yang hidup dibawah kepemimpinan Tonaas Tololiu Tua, itupun setelah masa kepahlawanan dari tokohtokoh sakti saat itu. Salah satunya, pahlawan pembela Mu’ung

Tonaas Tololiu merupakan salah satu pemimpin besar dalam suku Tombulu. Suku Tombulu saat itu mencakup daerah Mu’ung dan sekitaran Nimawanua. Mu’ung dikisahkan dari mata air Mu’ung yang sekarang ini dijadikan sebagai sarana air bersih dan irigasi sederhana di daerah kelurahan Matani. Dasar dari nama Mu’ung diambil dari kejadian pada peradaban manusia keturunan dari Toar Lumimuut yaitu Wawo Kumiwel. Wawo Kumiwel dikenal sebagai seorang pemburu yang memiliki keahlian tersendiri. Satu ketika dia berburu babi hutan dan entah mengapa hari itu, nasibnya sangat sial dengan melesetnya tombak yang dia pakai tidak mengena sasaran dan hanya mengenai tanah. Dia pun mencabut tombak itu. Ketika tombak dicabut, muncullah air dari lobang bekas tikaman lobang itu dan bunyinya sangat deras yang menimbulkan dengungan seperti bunyi lebah. Dari bunyi dengungan itulah tercetus kata Mu’ung. Dinamakanlah mata air itu menjadi mata air Mu’ung yang oleh masyarakat waktu itu lokasi tersebut menjadi tempat tinggal mereka. Kehidupan masyarakat waktu itu dikendalikan oleh Tololiu (oleh keturunannya disebut Tololiu Tua) sebagai pemimpin besar (tonaas wangko) suku Tombulu. Otomatis, Tololiu menjadi Kepala Pakasaan (dulunya walak, red) di pemukiman Mu’ung dan sekitaran Nimawanua. Pada kisaran tahun 1606 Tololiu Tua pernah ditemui ekspedisi Spanyol yang dipimpin pembantu letnan Christofal Suars. Ada pendapat saat itu, Tololiu Tua identik dengan seorang Tonaas bernama Tumalun. Tumalun dikenal sebagai pahlawan Tomohon dari Matani di kota lama Tomohon. Masa Tololiu Tua adalah masa yang beriringan dengan masuknya bangsa Spanyol atau Portugis di Minahasa. Mencermati masuknya bangsa lain, Tololiu pun berinisiatif untuk memperkuat benteng perairan dengan membendung sungai Ranowangko dan membangun istambak (tambak, red) di sebelah utara Mu’ung. Istambak itu sekaligus berfungsi untuk pengairan di sekeliling daerah tersebut. Waktu terus berlanjut, Tololiu pun meninggal. Ia dikebumikan di daerah tersebut yaitu di sekitaran Mu’ung yang sekarang ini di pertigaan Matani III.

TOLOLIU TUA PATUNG DIATAS KUBURAN
Karena ketenarannya, Tololiu tua akhirnya diabadikan menjadi monumen yang dibuat pada tahun 1974 oleh seorang pematung lokal Tarsi Paat. Menariknya, Patung Tololiu ini ternyata dibangun di atas kuburannya sendiri. Jelasnya, letak dari Kubur Tololiu Tua berada di bawah patung tersebut. Selain patung, Tarsi Paat juga membuat Monumen Palar yang lokasinya berada di tepi jalan berdekatan dengan patung Tololiu Tua. Patung Tololiu Tua diresmikan oleh Letkol JF Lumentut selaku kepala daerah Kabupaten Minahasa pada tahun 1974.

JADI WISATA SEJARAH
Patung Tololiu di Matani III merupakan pelengkap dalam berwisata sejarah di Kota Tomohon. Sangatlah mudah untuk medatangi tempat tersebut. Letak patung Tololiu Tua tepat di pusat Kota Tomohon yaitu di pertigaan arah dari Manado menuju Tondano Kabupaten Minahasa dan kearah selatan menuju Kabupaten Minahasa Selatan. Patung Tololiu ini pada akhirnya senantiasa mewakili Kejayaan suku Tombulu yang diyakini berkembang dari Tomohon.


Sumber: FCN Edisi 12, Tahun 2008

kirim ke teman | versi cetak

Berita "Pariwisata" Lainnya